Open top menu
#htmlcaption1 SEA DICAT POSIDONIUM EX GRAECE URBANITAS SED INTEGER CONVALLIS LOREM IN ODIO POSUERE RHONCUS DONEC Stay Connected
Selasa, 23 Mei 2017
Mukadimah dan Hikmah ke 1 Hubungan Amal dengan Rahmat Allah

Mukaddimah
Yang kita hormati dan kita cintai para Habaib dan para alim ulama, para muhibbin, hadirin hadirat rahimakumullah. Pertama-tama kita panjatkan puji dan syukur yang setinggi-tingginya ke Hadirat Allah SWT, yang mengumpulkan kita ditempat ini untuk berdzikir mengingat Allat, dan mengucapkan kalimat-kalimat Toyyibah lainnya.
Kita berharap kepada Allah agar di dunia ini selalu dikumpulkan dalam kebaikan dan taqwa, dan akhirat nanti dikumpulkan bersama-sama dengan junjungan kita Rosulullah SAW. Shalawat serta salam kita haturkan kepada nabi besar Muhammad SAW dan kepada seluruh keluarga, sahabat, dzuriyat serta para pengikut beliau sampai hari akhir nanti.
Terlebih dahulu kita mengenal kitab Al hikam ini dikarang/disusun oleh seorang Waliyulloh yaitu Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim bin Abdirrohman bin Abdillah bin Ahmad bin Isa bin Husain Ibnu Atthoillah as-Sakandari Rohimahulloh, beliau wafat pada tahun 709H di Qohiroh Mesir.
Kitab Al hikam ini adalah salah satu kitab yang beliau karang. Hikam ialah kalimat jamak yang artinya kumpulan-kumpulan hikmah. Syehk Muhammad Hayat Assindi mengatakan bahwa di dalam kitab ini terdapat 264 hikmah.
Kemuliaan dan kehebatan kitab Alhikam ini sampai-sampai dikatakan oleh sebagian ulama, “Andaikata di dalam solat itu boleh kita membaca selain Alquran (waktu qiyam/berdiri), niscaya kitab Alhikam ini patut dijadikan penggantinya” kenapa demikian karena kehebatannya dalam lafadz dan susunan kata-katanya dan maknanya mengandung ilmu-ilmu yang bermanfaat bagi mereka yang membaca dan memahaminya.
Kitab Alhikam itu 1 matan yang banyak disyarahkan oleh para ulama. Berpuluh-puluh macam kitab syarah hikam intinya ialah menguraikan seluas-luasnya apa yang terkandung hikmah per hikmah apa yang didalam kitab Alhikam itu. Pada kesempatan ini Guru Bakhiet tidak mengambil pada syarah kitab Alhikam tertentu. Kita baca matannya, kemudian kita ambil dari beberapa syarah yang ada yg dikarang oleh para ulama itu.

Hikmah ke 1
“Sebagian daripada tanda berpegangnya seseorang dengan amal, berkurangnya mengharap rahmat Allah ketika adanya kesalahan pada dirinya.”
Apabila kita melakukan satu dosa, apabila kita ketinggalan suatu wirid yang rutin, kemudian kita merasa jauh dari rahmat Allah, merasa jauh dari kasih sayang Allah. Itu menunjukan bahwa kita berpegang dengan amal. Orang-orang yang mulia yang sudah mengenal lebih jauh tentang Allah SWT, dalam keadaan apapun tidak berkurang harapnya kepada Allah, baik mereka dalam melakukan taat atau mereka sedang diuji dengan kemaksiatan. Harap mereka kepada Allah tetap sama. Kenapa sebabnya, karena mereka tidak berpegang kepada amal, namun mereka berpegang kepada rahmat/ anugerah Allah.
Amal itu artinya “harokatul jismi awil qolbi fa in taharroka bima fiihi sawaab suumia thoatan wa in taharroka bima fiihil ‘iqob sumiiat maksiyatan  “apabila gerak tubuh/jasad atau hati ada pahalanya itu dinamakan taat, apabila gerak tubuh/jasad atau hati itu mengakibatkan berdosa/disiksa dinamakan maksiat”.

Mari kita fokus pada amal yang mendatangkan sawab/pahala/taat. Amal Taat ini ada 3, yaitu:
1.            Amal Syariat
Amal Syariat itu gunanya untuk membaguskan anggota tubuh kita. Bagaimana jika ingin mata kita bagus, jangan memandang yg diharamkan oleh Allah. Bagaimana jika ingin kaki kita bagus, jangan melangkah kepada yg diharamkan oleh Allah.
2.            Amal Tharikat
Amal Tharikat itu untuk membaguskan hati. Bagaimana agar hati tidak sombong, iri, dengki, sum’ah, namimah, riya, dll.
3.            Amal Hakikat
Amal Hakikat itu untuk membaguskan arwah/ruh. Ruh yg bagus itu ialah ruh yg mengenal Allah.

Adapun inti dari Amal Syariat itu terdiri dari 3 pokok, yaitu:
1.            Taubat
Membersihkan diri dari yang kotor-kotor/ maksiat-maksiat (istilahnya dimandikan)
2.            Taqwa
Baru kita hiasi dengan pakaian ibadah
3.            Istiqomah
Agar tidak lepas pakaian ibadah itu maka istiqomah/dawam

Inti dari Amal Tharikat, yaitu:
1.            Ikhlash
2.            Sidiq (jujur)
Apa yg diucapkan mulut sama dengan yang diucapkan oleh hati
3.            Tuma’ninah (tentramnya hati dengan Allah)
Anak, istri, keluarga, harta, pangkat, dll tidak membuatnya tentram, hanya dengan Allah dia merasa tentram, meskipun dia sendirian di dalam hutan belantara.

Inti dari Amal Hakikat itu yaitu:
1.            Murokabah
Merasa dirinya selalu diawasi/diperhatikan oleh Allah, lalu tidak berani berbuat hal-hal yang tidak baik.
2.            Musyahadah
Jika dirinya sudah Murokabah maka Allah akan memberinya Musyahadah, yaitu beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat Allah. Dan pada akhirnya akan diberikan Makrifat oleh Allah.
3.            Makrifat

Para ulama sufi mengatakan “Laaya sikhul in tiqol ila maka min hatta yu haqqika maa qoblah” artinya “tidak sah seseorang itu berpindah dari suatu maqom/ amal/ perbuatan sebelum memantapkan yg sebelumnya.” Dimulai dari amal Syariat dulu, lalu ke amal Tharikat, dan ke amal Hakikat. Selama amal Syariat kita belum mantap tidak akan bisa kita mengaji amal Tharikat. Mengaji/belajar bisa, faham bisa, tapi memakai pasti tidak akan bisa. Begitu juga jika amal Tharikat belum mantap maka tidak akan bisa masuk ke amal Hakikat.
Kita wajib mengusahakan syartul qobul/ syarat diterima Amal Syariat diatas (Taubat, Taqwa, Istiqomah kita), yaitu:
1.            Ilmu (tiap-tiap orang yg bekerja/beramal tanpa ilmu, maka tertolak ibadahnya)
2.            Ikhlash (jangan ada tujuan lain selain dari Allah)
3.            Penuhi syarat, rukun dan adab (sopan santun/tata krama dalam beribadah)
4.            Tidak ada yg membatalkan dan yg dibenci Allah (jalankan yg sunat dan jauhi yg makruh)
5.            Halal pada sesuatu yang berhubungan dengannya (mulai dari makanan, pakaian, tempat, dll)

Jika kita sudah menjalankan Amal Syariat itu dengan baik, janganlah kita sekali-kali cenderung/ berpegang/ bersandar/ gembira pada semuanya itu. Yang harus kita gembirakan itu adalah Rahmat Allah yang datang kepada kita, sehingga kita bisa menjalankan Amal Syariat tersebut.
Jika orang berpegang pada amal, itu yg mengakibatkan ibadah turun naik. Jika banyak maksiat merasa jauh dengan Allah, jika banyak ibadah/taat merasa dekat dgn Allah, padahal Allah tidak menjauh dan tidak mendekat. Disinilah letak kelemahan Tauhid kita. Baiknya kita selalu berpegang pada Rahmat Allah.

Sabda Nabi “layadkhulla ahadukumul jannah bi amalihi, qolu wala anta ya rosulullah, qola wala ana, illa ayyatadzom madani ya Allah birohmatih” artinya “seseorang kamu selamanya tidak akan masuk surga dengan amalnya, akupun (kata nabi) amalku tidak akan memasukkan aku ke dalam surga, kecuali Allah yg meliputkan aku dengan Rahmat-Nya”.






Read more

Mukadimah dan Hikmah ke 1 Hubungan Amal dengan Rahmat Allah

Mukaddimah Yang kita hormati dan kita cintai para Habaib dan para alim ulama, para muhibbin, hadirin hadirat rahimakumullah. Pertama-tam...