Mukadimah dan Hikmah ke 1 Hubungan Amal dengan Rahmat Allah
Mukaddimah
Yang kita hormati dan kita cintai para Habaib
dan para alim ulama, para muhibbin, hadirin hadirat rahimakumullah.
Pertama-tama kita panjatkan puji dan syukur yang setinggi-tingginya ke Hadirat
Allah SWT, yang mengumpulkan kita ditempat ini untuk berdzikir mengingat Allat,
dan mengucapkan kalimat-kalimat Toyyibah lainnya.
Kita berharap kepada Allah agar di dunia ini selalu
dikumpulkan dalam kebaikan dan taqwa, dan akhirat nanti dikumpulkan
bersama-sama dengan junjungan kita Rosulullah SAW. Shalawat serta salam kita
haturkan kepada nabi besar Muhammad SAW dan kepada seluruh keluarga, sahabat,
dzuriyat serta para pengikut beliau sampai hari akhir nanti.
Terlebih dahulu kita mengenal kitab Al hikam
ini dikarang/disusun oleh seorang Waliyulloh yaitu Ahmad bin Muhammad bin Abdul
Karim bin Abdirrohman bin Abdillah bin Ahmad bin Isa bin Husain Ibnu Atthoillah
as-Sakandari Rohimahulloh, beliau wafat pada tahun 709H di Qohiroh Mesir.
Kitab Al hikam ini adalah salah satu kitab
yang beliau karang. Hikam ialah kalimat jamak yang artinya kumpulan-kumpulan
hikmah. Syehk Muhammad Hayat Assindi mengatakan bahwa di dalam kitab ini
terdapat 264 hikmah.
Kemuliaan dan kehebatan kitab Alhikam ini
sampai-sampai dikatakan oleh sebagian ulama, “Andaikata di dalam solat itu
boleh kita membaca selain Alquran (waktu qiyam/berdiri), niscaya kitab Alhikam
ini patut dijadikan penggantinya” kenapa demikian karena kehebatannya dalam
lafadz dan susunan kata-katanya dan maknanya mengandung ilmu-ilmu yang
bermanfaat bagi mereka yang membaca dan memahaminya.
Kitab Alhikam itu 1 matan yang banyak disyarahkan
oleh para ulama. Berpuluh-puluh macam kitab syarah hikam intinya ialah
menguraikan seluas-luasnya apa yang terkandung hikmah per hikmah apa yang
didalam kitab Alhikam itu. Pada kesempatan ini Guru Bakhiet tidak mengambil
pada syarah kitab Alhikam tertentu. Kita baca matannya, kemudian kita ambil
dari beberapa syarah yang ada yg dikarang oleh para ulama itu.
Hikmah ke 1
“Sebagian daripada tanda berpegangnya
seseorang dengan amal, berkurangnya mengharap rahmat Allah ketika adanya
kesalahan pada dirinya.”
Apabila kita melakukan satu dosa, apabila kita
ketinggalan suatu wirid yang rutin, kemudian kita merasa jauh dari rahmat
Allah, merasa jauh dari kasih sayang Allah. Itu menunjukan bahwa kita berpegang
dengan amal. Orang-orang yang mulia yang sudah mengenal lebih jauh tentang
Allah SWT, dalam keadaan apapun tidak berkurang harapnya kepada Allah, baik mereka
dalam melakukan taat atau mereka sedang diuji dengan kemaksiatan. Harap mereka
kepada Allah tetap sama. Kenapa sebabnya, karena mereka tidak berpegang kepada
amal, namun mereka berpegang kepada rahmat/ anugerah Allah.
Amal itu artinya “harokatul jismi awil qolbi
fa in taharroka bima fiihi sawaab suumia thoatan wa in taharroka bima fiihil
‘iqob sumiiat maksiyatan “apabila gerak
tubuh/jasad atau hati ada pahalanya itu dinamakan taat, apabila gerak
tubuh/jasad atau hati itu mengakibatkan berdosa/disiksa dinamakan maksiat”.
Mari kita fokus pada amal yang mendatangkan sawab/pahala/taat.
Amal Taat ini ada 3, yaitu:
1.
Amal Syariat
Amal Syariat itu
gunanya untuk membaguskan anggota tubuh kita. Bagaimana jika ingin mata kita
bagus, jangan memandang yg diharamkan oleh Allah. Bagaimana jika ingin kaki
kita bagus, jangan melangkah kepada yg diharamkan oleh Allah.
2.
Amal Tharikat
Amal Tharikat itu
untuk membaguskan hati. Bagaimana agar hati tidak sombong, iri, dengki, sum’ah,
namimah, riya, dll.
3.
Amal Hakikat
Amal Hakikat itu
untuk membaguskan arwah/ruh. Ruh yg bagus itu ialah ruh yg mengenal Allah.
Adapun inti dari Amal Syariat itu terdiri dari
3 pokok, yaitu:
1.
Taubat
Membersihkan diri
dari yang kotor-kotor/ maksiat-maksiat (istilahnya dimandikan)
2.
Taqwa
Baru kita hiasi dengan
pakaian ibadah
3.
Istiqomah
Agar tidak lepas
pakaian ibadah itu maka istiqomah/dawam
Inti dari Amal Tharikat, yaitu:
1.
Ikhlash
2.
Sidiq (jujur)
Apa yg diucapkan mulut
sama dengan yang diucapkan oleh hati
3.
Tuma’ninah
(tentramnya hati dengan Allah)
Anak, istri,
keluarga, harta, pangkat, dll tidak membuatnya tentram, hanya dengan Allah dia
merasa tentram, meskipun dia sendirian di dalam hutan belantara.
Inti dari Amal Hakikat itu yaitu:
1.
Murokabah
Merasa dirinya
selalu diawasi/diperhatikan oleh Allah, lalu tidak berani berbuat hal-hal yang
tidak baik.
2.
Musyahadah
Jika dirinya sudah
Murokabah maka Allah akan memberinya Musyahadah, yaitu beribadah kepada Allah
seolah-olah engkau melihat Allah. Dan pada akhirnya akan diberikan Makrifat
oleh Allah.
3.
Makrifat
Para ulama sufi mengatakan “Laaya sikhul in
tiqol ila maka min hatta yu haqqika maa qoblah” artinya “tidak sah seseorang
itu berpindah dari suatu maqom/ amal/ perbuatan sebelum memantapkan yg
sebelumnya.” Dimulai dari amal Syariat dulu, lalu ke amal Tharikat, dan ke amal
Hakikat. Selama amal Syariat kita belum mantap tidak akan bisa kita mengaji
amal Tharikat. Mengaji/belajar bisa, faham bisa, tapi memakai pasti tidak akan
bisa. Begitu juga jika amal Tharikat belum mantap maka tidak akan bisa masuk ke
amal Hakikat.
Kita wajib mengusahakan syartul qobul/ syarat
diterima Amal Syariat diatas (Taubat, Taqwa, Istiqomah kita), yaitu:
1.
Ilmu (tiap-tiap
orang yg bekerja/beramal tanpa ilmu, maka tertolak ibadahnya)
2.
Ikhlash (jangan ada
tujuan lain selain dari Allah)
3.
Penuhi syarat, rukun
dan adab (sopan santun/tata krama dalam beribadah)
4.
Tidak ada yg
membatalkan dan yg dibenci Allah (jalankan yg sunat dan jauhi yg makruh)
5.
Halal pada sesuatu
yang berhubungan dengannya (mulai dari makanan, pakaian, tempat, dll)
Jika kita sudah menjalankan Amal Syariat itu
dengan baik, janganlah kita sekali-kali cenderung/ berpegang/ bersandar/
gembira pada semuanya itu. Yang harus kita gembirakan itu adalah Rahmat Allah
yang datang kepada kita, sehingga kita bisa menjalankan Amal Syariat tersebut.
Jika orang berpegang pada amal, itu yg
mengakibatkan ibadah turun naik. Jika banyak maksiat merasa jauh dengan Allah,
jika banyak ibadah/taat merasa dekat dgn Allah, padahal Allah tidak menjauh dan
tidak mendekat. Disinilah letak kelemahan Tauhid kita. Baiknya kita selalu berpegang
pada Rahmat Allah.
Sabda Nabi “layadkhulla ahadukumul jannah bi
amalihi, qolu wala anta ya rosulullah, qola wala ana, illa ayyatadzom madani ya
Allah birohmatih” artinya “seseorang kamu selamanya tidak akan masuk surga
dengan amalnya, akupun (kata nabi) amalku tidak akan memasukkan aku ke dalam
surga, kecuali Allah yg meliputkan aku dengan Rahmat-Nya”.
.png)
